Recent in Fashion

Best Seller Books

ADS

Wanita Yang Dirindui Surga



OLeh : Ustadzah Halimah

*WANITA YANG DIRINDUI SURGA*
🌸Mengapa ada wanita yang dirindukan surga dan tidak lelaki yang dirindukan surga?
Apakah surga mempunyai sifat rindu?
🌸Inilah wanita betapa indahnya hingga surga pun merindukannya. Ya, surga memiliki rindu, rindu orang-orang yang taat, rindu orang-orang shaleh.
🌸Kenapa wanita?
Karena kebanyakan wanita masuk neraka. Seperti sabda Rasulullah “Aku berdiri di depan pintu surga, ternyata yang masuk ke dalamnya adalah orang-orang miskin, sementara orang kaya lagi terpandang masih tertahan (untuk di hisab) namun penghuni neraka telah di perintah untuk masuk ke dalam neraka, ternyata mayoritas yang masuk ke dalam neraka adalah kaum wanita".
(HR. Bukhari dan Muslim)
🌸Di zaman yang sekrang ini semakin meluas saja prilaku-prilaku wanita yang tak sesuai dengan syariat. Wanitalah sumber pencipta nafsu pria.Namun bukan berarti semua pria masuk surga. Dari mulai menutup aurat, berhubungan dengan lawan jenis yang telah melewati batas tertentu. Semua ini mengundang syahwat.
🌸Iklan-iklan di TV, Sinetron, sangat udah mempengaruhi orang lain dalam bertingkah laku. Anak-anak yang belum tahu tentang aurat sampai saat ini tidak ingin memakai jilbab karena ingin mengikuti gaya para artis di sinetron, para girlband seperti cheribelle dan lain sebagainya.
🌸Membuka aurat telah mendunia makanya wanita kebanyakan masuk neraka. Hanya orang-orang langka yang memasukinya. Diri kita bisa menjadi salah satu bagian dari surga jika kita sendiri mampu mengubah, bertingkah sesuai dengan syariat islam tentunya. Sebenarnya pekerjaan wanita itu tidak repot.
🌸Apa saja sih yang harus dilakukan oleh wanita?
🔹A. Meperteguh Iman
Iman seseorang itu hendaknya dari hati. Jika hati kita yakin, maka perilaku kita pun akan mengikuti kata hati. Hati yang mengamalkan sifat terpuji, yaitu yang selalu tahu akan kebenaran, hati yang selalu takut kepada Allah, dan hati yang selalu merindukan belai cinta Allah.
Kemudian membuktikannya lewat lisan dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, mengucapkan kata-kata terpuji,menjauhi ghibah dan naminah.
Dan setelah itu diwujudkan dengan prilaku sehari-hari.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka gemetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada tuhan-lah mereka bertawakal”.
(Q.S. Al-Anfal (8): 2).
🌸Wah..sungguh sempurna ya seorang wanita muslimah jika ia mampu meneguhkannya dari hati sampai ke perilaku.
🔹B. Bertakwa kepada Allah SWT
Bagaimana ciri-ciri wanita bertakwa?
Nah disini akan saya beritahu yang pertama itu beriman kepada yang ghaib, mudah memaafkan dan mempunyai toleransi yang tinggi, menghindari dosa besar dan beristighfar jika melakukan dosa kecil, memuliakan syiar Allah dan yang terakhir berlaku adil dalam memutuskan perkara.
🔹C. Berbakti kepada Kedua Orangtua
Berbuat baik kepada kedua orang tua hukumnya fardhu ‘ain, sehingga harus lebih didahulkan daripada amalan-amalan lain yang sifatnya fardhu kifayahdan sunnah. Bahkan, berbakti kepada kedua orangtua menempati posisi tertinggi kedua setelah ibadah sholat yang merupakan tiang agama.
🔹D. Medidik Anak
Jika kita berhasil mendidik anak dengan baik sehingga menjadi shalih-shalihah, tentu Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha kita.
Rasulullah sendiri mengikat hati sahabat-sahabatnya dan anak-anak mereka dengan kecintaannya kepada anaknya, orangtuanya, dan manusia semuanya.
”Belum sempurna iman seseorang diantara kalian sebelum diriku lebih dicintai olehnya daripada kecintaannya kepada anaknya, orangtuanya, dan manusia semuanya.”
🔹E. Ikhlas dan Gemar Beribadah
“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.
🔹F. Membaca dengan Mengamalkan Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an tidak harus dalam jumlah bacaan yang banyak. Tetapi, boleh sedikit demi sedikit asalkan rutin, dan istiqomah.
“Orang yang pandai mebaca Al-Qur’an akan bersama malaikat yang mulia lagi berbakti, dan yang membaca tetapi sulit dan terbata-bata maka dia mendapat dua pahala". Maka itu berlomba-lombalah dalam mengamalkan Al-Qur’an.
🔹G. Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
Sebagai muslimah janganlah kita berdiam diri melihat kemungkaran. Mulailah dari diri sendiri, prilaku kita, akhlak kita, hubungan kita dengan Allah, juga hubungankita dengan sesama.
Wanita dapat terjun berdakwah dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar, namun tetapberpegang teguh pada batsan-batasan syar’i yang diperuntukkn bagi kau wanita.
🔹H. Menyambung dan Mempererat tali Silaturrahmi
Menyambung tali silaturrahi hukunya wajib, terutama bagi sesama musli. Dan haram hukumnya apabila kita memutuskannya. Seperti hadist :
“Tidak akan asuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan”
(HR. Ibnu Majah)
Maka dari itu kita harus tetap menjaga tali silaturrahmi sesama muslim.
🔹I. Menutup Aib dan Pandai Menjaga Lisan.
Menurut sunnah seseorang hendaknya lebihmenahan diri dari banyak bicara, sebab perkataan yang asalnya mubah sekalipun terkadang bisa menjurus pada makruhatau bahkan haram.
“Barangsiapa mampu menjaga apa yang ada diantara kedua rahangnya (lisannya) dan apa yang ada diantara kedua kakinya (kemaluannya) dengan baik, aku berani menjamin, dia pasti masuk surga.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
🌸Nah..itu dia beberapa hal yang harus kita lakukan agar menjadi wanita penghuni surga. Mudah bukan? Jangan katakan susah. Ayoo segera lakukan, insya allah Allah menunjukkan jika niat kita ikhlas karena Allah.
Rasulullah pernah melihat seorang wanita menangis di kuburan, beliau kemudian berpesan, “Bertakwalah kepada Allah!” Hal ini berarti takwa penting dalam keseharian manusia. Bahkan, saking penting bertakwa, dalam Al-Qur’an perintah untuk bertakwa disebutkan sebanyak 69 kali (halaman 71).
Setelah beriman dan bertakwa, maka yang mendekatkan wanita kepada kecintaan Allah adalah beribadah. Ada begitu banyak ibadah yang Allah sediakan, dari yang wajib hingga yang sunnah. Alangkah baiknya ketika menunaikan kewajiban shalat lima waktu, puasa Ramadhan, haji, dan lainnya, diiringi juga dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah. Seperti shalat sunnah rawatib, dhuha, tahajud dan lainnya. Puasa sunnah senin-kamis, daud, syawal, hari asyura Muharram dan lainnya. Membaca dan mengkaji Al-Qur’an. Zikir kepada Allah. Berakhlah mulia, berbakti pada orangtua, membina kehidupan beragama dalam keluarga dan lain-lain (halaman 169).
Dengan demikian, buku Wanita Yang Dirindukan Surga: Beribadah Tanpa Lelah tidak hanya menarik dan inspiratif tetapi juga penuh dengan ilmu agama yang penting diketahui, khususnya oleh para wanita. Sehingga kelak menjadi wanita yang dirindui oleh Surga.
Semoga.
🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
💎TaNYa JaWaB💎
0⃣1⃣ Erni
Bagaimana cara mendidik anak supaya menjadi anak yang soleh solehah bunda?
🌸Jawab:
Mendidik Anak Menjadi Sholeh dan Sholehah
Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakan untuknya.” (HR. Muslim)
Anak-anak adalah anugerah dari Allah Swt. yang tentunya sangat berharga bagi orangtuanya. Anak-anak juga merupakan amanah yang dipercayakan Allah Swt. kepada orangtua, yang harus dijaga dan dipelihara dengan sebaik-baiknya agar mereka bisa mendapatkan keselamatan di dunia dan di akhirat.
Bila kita telah menikah dan membentuk sebuah rumah tanggah, tentunya kita berharap untuk dikaruniai anak-anak yang baik, sholeh dan sholehah, yang bukan saja dapat membahagiakan orangtuanya di dunia, namun juga bisa menyelamatkan orangtuanya di akhirat kelak. Seperti dalam sabda Rasulullah saw,
“Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakan untuknya.” (HR. Muslim)
Orangtua mana yang tidak mau mempunyai anak-anak yang sholeh dan sholehah. Oleh karena itu, orangtua juga harus memiliki perbekalan agar bisa memberikan pendidikan agama yang sempurna bagi anak-anaknya. Karena, mendidik anak merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab orangtua yang cukup penting.
Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh orangtua yang ingin memiliki anak-anak yang sholeh dan sholehah yaitu senantiasa berdoa kepada Allah Swt. Hal ini sesuai dengan amalan para nabi dan rasul yang selalu memohon kepada Allah Swt. untuk diberikan keturunan yang baik.
Firman Allah swt, “Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.”
(QS. Ali Imran:38)
Dalam membesarkan dan mendidik anak, hendaklah orangtua menanamkan akidah dan akhlak yang baik sesuai syariat Islam di dalam diri sang anak. Akidah dan akhlak yang mantap merupakan jaminan kebahagiaan dan keselamatan hidup manusia, baik di dunia dan di akhirat. Dengan akidah dan akhlak yang baik, anak-anak akan senantiasa dapat menjaga keimanan mereka.
Keimanan dalam diri anak-anak sangat penting agar mereka agar tidak tersesat nantinya.
Keimanan tersebut dilambangkan dengan ketaatan dan kepatuhan kepada Tuhannya, Allah Swt. Dalam hal ini, orangtua juga perlu memberikan tuntunan beribadah yang sesuai dengan syariat Islam, bahwa ibadah yang dilakukan itu adalah semata-mata karena Allah Swt. serta senantiasa menyerahkan segala jiwa dan raganya terhadap segala perintah Allah Swt. dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah swt, Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am:162)
Dan yang terkahir, amalan yang paling penting dalam membesarkan anak-anak yaitu memberi mereka makan dari sumber yang halal. Firman Allah swt, “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan, karena sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah:168)
Harta yang halal yang didapatkan orangtua bukan saja mampu memperolah ridho dan berkat dari Allah Swt. Anak-anak yang memakan makanan dari usaha orangtuanya yang halal akan tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan pintar, sehingga mereka akan senantiasa melakukan kebaikan dan dirahmati Allah swt.
Sebaliknya, memberi makan pada anak-anak dari hasil usaha yang haram hanya akan membuat anak sakit-sakitan karena tidak barokah. Untuk itu, orangtua harus menjauhi usaha yang bersifat haram dan tercela seperti mencuri, riba, korupsi, menipu, dan sebagainya.
Demikianlah usaha-usaha yang dapt dilakukan oleh para orangtua dalam membesarkan anak-anak yang sholeh dan sholehah. Marilah kita sama-sama memberikan pendidikan yang sempurna untuk anak-anak kita, guna menghasilkan generasi penerus yang cemerlang di masa mendatang. Berikanlah mereka kasih sayang dan tunjukkanlah contoh yang baik agar anak-anak kita menjadi sosok manusia seperti yang kita inginkan.
Keberhasilan anak merupakan keberhasilan orangtuanya juga, karena anak yang soleh/solehah itu merupakan bukti bahwa orangtua telah melaksanakan amanah Allah Swt. terhadap anaknya dengan baik.
Dan di akhirat nanti, amanah ini akan ditanyakan oleh Allah swt. Dan hanya dengan ajaran agama Islam-lah manusia mendapatkan bimbingan dan panduan dalam membentuk sebuah keluarga bahagia yang dirahmati dan diridhoi Allah swt.
0⃣2⃣ Ira
Sebenernya ini jauh dari tema bund tapi kan tadi sempat disinggung beberapa kali tentang orang tua, nah saya mau tanya.
Bagaimana jika di keluarga yang sholat hanya satu orang sedangkan yang lain seperti ayah, ibu dan lain-lain tidak sholat?
Bahkan tidak pernah puasa?
Apa yang sebaiknya dilakukan sebagai muslimah yang berbakti pada kedua orang tua?
Syukhron
🌸Jawab:
Kita bisa memberitahu orangtua kita dan yang lainnya dengan bijak dan sopan agar tidak menyinggung perasaan orang tua kita...
Atau kita dengan memperdengarkan di rumah bacaan Al- qur'an atau menyetel televisi tentang kajian atau kita harus mendo'akan orangtua kita agar diberikan hidayah sama Allah...
0⃣3⃣ Risky
Salahkah jika perempuan aktif disebuah organisasi dakwah dimana di organisasi juga ada ikhwan nya.
Takutnya malah membuat ikhwan itu merasa bahwa perempuan itu malah cari perhatian ikhwan saja. Apa yang harus dilakukan wanita tersebut?
🌸Jawab:
Islam tetap memperbolehkan wanita bekerja atau memegang jabatan-jabatan publik tetapi tetap dalam menjaga adab syar’i dan batas etika yang wajar dalam Islam.
Banyak pandangan yang keliru tentang wanita bekerja, salah satunya adalah pandangan yang keliru menganggap wanita yang bekera di luar untuk memperoleh nafkah penghasilan lebih baik daripada mengerjakan kewajiban sebagai seorang istri yang berdiam di rumah dan hanya mengurus anak dan keluarga.
Jika wanita keluar rumah dengan niat untuk mencari nafkah maka ia akan mengeluarkan uang lebih banyak untuk keperluan merias diri seperti pakaian, parfum, kosmetik dan perhiasan.
Misalkan pegawai kantoran, yang mau tidak mau harus merias diri dan berpenampilan menarik, dan kesemua hal tersebut membutuhkan banyak uang untuk memenuhinya.
Oleh sebab itu pilihlah lapangan pekerjaan dan mitra kerja yang sesuai dikerjakan oleh wanita dan sesuai dengan etika Islam.
Menurut pandangan penulis, bagi seorang muslimah tuntutan untuk berdedikasi di luar rumah hanya cocok pada beberapa profesi. Misalnya menjadi guru, dosen, dokter, perawat, bidan, penulis, bisnis online atau pekerjaan yang serupa dengan hal tersebut dan kemudian dapat meminimalisir adanya kontak atau interaksi dengan kaum pria.
Walaupun ada beberapa pilihan profesi pekerjaan yang cocok untuk diambil oleh wanita, tapi tetap saja ada beberapa norma yang harus diperhatikan oleh wanita yang bekerja:
Pertama, adanya izin yang diberikan oleh suami (untuk istri) atau ayah (untuk gadis).
Kedua, menjauhi pergaulan yang bersifat campur baur antara laki-laki dengan perempuan, apalagi hingga larut malam.
Ketiga, jika keluar rumah untuk bekerja menggunakan pakaian yang sopan, menutup aurat dan sesuai etika Islam.
Terutama untuk jabatan publik, jika kita perhatikan dalam Al-Quran, kita tidak akan menemukan ayat-ayat yang melarang wanita untuk memegang amanah di jabatan publik. Selama jabatan tersebut relevan dengan fitrah wanita dan ia mampu menunaikannya secara optimal dan maksimal.
Beberapa contoh jabatan publik tersebut misalnya adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan, atau anggota DPR yang menangani isu-isu pendidikan, kesehatan, wanita dan anak.
🍃Perlu diingat kembali bahwa,
(1) Tugas-tugas wanita dalam konteks sosial bukanlah sekedar membuat tulisan, makalah, atau laporan dokumentasi namun juga bekerja secara serius dan proaktif dalam mengaktualisasi kemampuan diri,
(2) Mampu untuk membimbing dan mendidik generasi penerus yang berkualitas,
(3) Memiliki kepekaan terhadap kondisi masyarakat dan masalah sosial yang ada,
(4) Memiliki kepekaan terhadap masalah yang dihadapi kaum wanita dan kelompok marjinal,
(5) Memiliki kepribadian yang unggul dan prestatif, dimulai dari perihal keagamaan, pemikiran, perilaku, cara berpakaian hingga etika dalam kehidupan sehari-hari.
0⃣4⃣ Chie
Wanita lebih mulia berada di dalam rumahnya. Apakah berdosa jika kita ingin menebar manfaat serta berjihad keluar, bunda?
Jazakillah khoir
🌸Jawab:
Islam sangat menjaga kemulian wanita, sehingga wanita tidak dibiarkan apabila keluar dari rumahnya dalam keadaan memperlihatkan perhiasannya. Karena perhiasan merupakan sesuatu yang sangat istimewa baginya. Bahkan dari situlah lelaki dapat mengukur sampai dimana keshalihan seorang wanita dan tentang kadar imannya.
Selain berdosa menurut pandangan Islam, wanita yang berpakaian tidak menutupi auratnya dapat membawa bahaya bagi dirinya. Apalagi yang memakai kalung emas dan gelang emas. Ini sangat menarik perhatian pencopet dan perampok.
Bahkan wanita yang menampakkan auratnya akan mempengaruhi lelaki-lelaki jahil untuk mengganggunya bahkan memperkosanya.
“Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak diganggu dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (Q.s. al-Ahzab: 59).
🍃Emansipasi Wanita dan Naruninya
Emansipasi berasal dari bahasa latin “emancipatio” yang artinya pembebasan dari tangan kekuasaan. Di zaman Romawi dulu, membebaskan seorang anak yang belum dewasa dari kekuasaan orang tua sama halnya dengan mengangkat hak dan derajatnya.
Adapun makna emansipasi wanita adalah perjuangan sejak abad ke 14 M dalam rangka memperoleh persamaan hak dan kebebasan seperti hak kaum laki-laki (Kamus ilmiah Populer hal 74-75). Jadi para penyeru emansipasi wanita menginginkan agar para wanita disejajarkan dengan kaum pria di segala bidang kehidupan.
Memaknai refleksi kelahiran R.A. Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April sebagai Tokoh Nasional yang dikenal sangat getol memperjuangkan gerakan emansipasi wanita di Indonesia. Sepintas lalu, hal itu merupakan dogma yang nyaris tanpa kritik sejak memoar beliau tertuang dengan tinta emas dalam lembaran sejarah kemerdekaan Indonesia. Bukan hanya wanita, pria bahkan waria pun sampai detik ini meyakini derap kemajuan emansipasi wanita Indonesia dicapai berkat gerakan emansipasi yang dipelopori R.A. Kartini. Apalagi dengan karyanya yang sangat masyhur Habis Gelap Terbitlah Terang.
Jika emansipasi dikonstruksikan sebagai konsep penyetaraan hak dan kedudukan antara pria dan wanita untuk berperan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan, maka sesungguhnya hal seperti itu sudah terjadi dan melembaga jauh sebelum era Kartini.
Kita tentu masih ingat kalau Majapahit sebagai kerajaan yang pernah menguasai hampir seluruh kawasan Asia Tenggara hingga ke Formosa di bagian Utara dan Madagaskar di Barat. Ternyata, dalam silsilah kerajaan Majapahit pernah diperintah dua perempuan masing-masing Tribhuwana Tungga Dewi (1328-1350) M. dan Kusuma Wardhani (1389-1429) M.
Kalau penyetaraan segala hak yang ingin disamakan antara wanita dan lelaki, maka sungguh itu tidak akan pernah bisa. Wanita mempunyai keterbatasan-keterbatasan yang membedakan dirinya dengan lelaki. Mulai tingkat menjadi imam shalat sampai dengan memanjat kelapa. Apapun yang telah diatur di dalam al-Quran dan Hadits, itulah kodratnya.
Hari ini, seorang wanita dibolehkan memakai celana pendek, berpakaian ketat, pakai jeans dan kerja dari pagi sampai larut malam, dinas keluar kota berbulan-bulan tanpa didampingi muhrim karena emansipasi. Tapi apakah nuranimu, wahai wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya sanggup menerimanya?
Apakah nuranimu akan berkata, “Ya” dan, “Inilah yang terbaik bagi anakku”? Yang mereka keluar kota berbulan-bulan dengan rekan sekantornya, dengan tanpa bersalah mereka menggunakan celana pendek ke luar kota bahkan ke mall.
Apakah nuranimu, wahai wanita yang bersifat ibu mampu menerimanya dengan hati nuranimu?
“Sesungguhnya sebilangan ahli neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
0⃣5⃣ Rafika
Bagaimana hukumnya wanita bekerja diluar rumah?
Jika penghasilan wanita lebih besar dari suaminya, sehingga membuat suami jadi minder, bagaimana menyikapinya bunda?
🌸Jawab:
Persoalan utamanya bukan terletak pada jumlah penghasilan istri yang lebih besar, atau pada jabatan istri yang lebih tinggi dari suami. Namun persoalan terletak pada sikap-sikap tidak dewasa dan tidak bijak pada keduanya. Istri bisa menjadi arogan karena merasa lebih kaya, merasa lebih sukses, merasa lebih pandai, merasa lebih hebat dari suami. Istri merasa lebih berkuasa daripada suami, sehingga bersikap sombong dan tidak bisa menghargai suami. Perubahan sikap istri yang disebabkan karena kenaikan jumlah penghasilan inilah yang menjadi persoalan besar dalam membangun kebahagiaan keluarga.
Hendaknya para istri salihah tetap bisa bersikap hormat dan takzim terhadap suami, meskipun penghasilan suami lebih kecil dibanding dirinya. Ketidakmampuan istri bersikap menghormati, memuliakan dan menempatkan suami secara nyaman, membuat suami menjadi hipersensitif, menjadi minder dan akhirnya bisa memunculkan serangkaian persoalan ikutan lainnya.
0⃣6⃣ Nina Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.
Selamat malam, Bunda. Saya Nina dari Siantar, mau bertanya mengenai poin H. Sebelumnya saya ingin menceritakan kronologisnya terlebih dahulu.
Saya punya seorang sahabat dari SMA yang sudah lumayan dekat. Dia adalah seorang gadis yang pemarah, egois dan cepat tersinggung. Pernah suatu ketika kami menghadapi masalah dan dia mengatakan saya tidak perlu menghubunginya lagi dan saya menepatinya. Bagaimana itu, Bunda? Apakah saya berdosa? Padahal sebelumnya saya sudah meminta maaf dan mengajak dia untuk mencari solusi, tetapi dia tidak mau dan malah mengeluarkan kata-kata yang sangat menyakiti hati saya. Bagaimana menyikapinya, Bunda?
Saya takut ibadah saya tidak diterima karena hal ini. Terima kasih, Bunda.
🌸Jawab:
Marah adalah hak setiap orang untuk mengungkapkan perasaannya. Tetapi hal ini tentu tidak baik jika dijadikan sesuatu kebiasaan. Orang yang pemarah dan tidak disukai oleh banyak orang sekitarnya, dan biasanya akan dianggap egois karena sebenarnya orang pemarah itu meluapkan emosi hanya untuk dirinya sendiri. Ketika ingin meluapkan emosi, si pemarah biasanya tidak memperhatikan kepentingan orang lain juga.
🍃Menghadapi si Pemarah
Orang yang mudah marah sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Menghadapi orang pemarah harus berhati-hati, karena orang yang sedang marah tidak akan peduli pada akal sehat. Jika tidak berhati-hati, kita bisa terpancing untuk ikut marah juga, lalu keadaan akan makin buruk jadinya. Berikut ini ada beberapa Cara Menghadapi Orang Pemarah dan egois:
1. Berusaha untuk tenang dan diam.
Ketika orang tersebut sedang meluapkan kemarahannya, usahakan untuk menunjukkan cara bersikap tenang serta cara menenangkan hati dan pikiran dengan baik di hadapannya.
Jangan dulu menanggapi apapun. Diam adalah sikap yang paling baik. Perhatikan juga bahasa tubuh Anda, usahakan tampak santai dan tidak memancarkan sikap agresif.
2. Tunjukkan Kesabaran.
Menunjukkan cara bersikap sabar sangat diperlukan untuk menghadapi orang yang sedang marah. Tidak ada gunanya jika kita ikut terpancing emosi dan ikut berbicara pada waktu yang bersamaan. Tahan diri dan bersabarlah ketika dia sedang marah dan emosi. Mungkin akan ada kata-kata yang tidak enak didengar, tetapi disinilah perlunya Anda bersikap sabar.
3. Biarkan dia berbicara.
Orang yang sedang emosi butuh untuk mengeluarkan apapun yang membuatnya marah dan menjadi ganjalannya.
Biarkan dulu dia meluapkan isi pikirannya dan dengarkan. Dengarkan dengan seksama perkataannya selama hal itu masih relevan dengan masalah. Bila dia sudah mulai melantur atau keluar topik maka Anda bisa berhenti mendengarkan tetapi jangan beranjak dari tempat.
4. Pahami penyebab kemarahannya.
Normalnya, kemarahan seseorang tentu memiliki alasan yang jelas. Kita harus dapat mengetahui alasan di balik kemarahan tersebut. Tentu kita mengetahui dengan pasti situasi yang membuat orang itu marah, akan tetapi selalu ada kemungkinan bahwa kemarahannya itu terjadi karena ada hal yang tidak diungkapkan olehnya. Tunjukkan kepada si pemarah bahwa Anda memiliki niat baik untuk memahami situasi saat itu dengan baik, sehingga kemarahannya bisa mereda dan dia melihat Anda bisa mencari cara menjaga perasaan orang lain.
5. Coba berempati pada orang yang marah.
Ada kalanya orang marah karena merasa tidak dipahami. Sebaiknya Anda coba menggali latar belakang orang yang sedang marah tersebut. Apakah saat ini dia juga sedang menghadapi masalah lain? Apakah orang tersebut sedang stres, tidak enak badan, banyak pikiran lain dan sebagainya. Tempatkan diri Anda di posisinya, apa yang akan Anda rasakan kalau berada dalam situasi tersebut dan apakah ada cara merubah kepribadian agar ia tidak menjadi pemarah dan cara menghilangkan sifat egoisnya.
6. Minta kesempatan berbicara.
Anda juga harus pintar menilai situasi. Jika tampaknya orang tersebut belum juga berniat mengurangi kemarahannya walaupun Anda sudah mengalah dan bersikap tenang serta sabar, ini saatnya Anda mengintervensi luapan emosi tersebut. Coba untuk meraih perhatiannya dan meminta kesempatan berbicara. Jika perlu, potong pembicaraannya yang sudah keluar jalur.
Selagi berbicara, tampilkan cara menghilangkan sifat sombong agar orang tersebut tidak kembali tersinggung.
7. Gunakan kata-kata yang menenangkan.
Ketika sudah diberi kesempatan berbicara oleh lawan bicara, pilih kata-kata Anda dengan sangat hati-hati. Cara merayu pria yang lagi marah atau cara membujuk wanita yang marah hanya berhasil saat mereka bisa tenang. Katakan bahwa Anda memahami situasinya dan bersedia untuk berdiskusi untuk mengatasi penyebabnya. Jangan tunjukkan bahwa Anda tidak menerima kemarahan orang tersebut, tetapi tunjukkan padanya untuk cara mengatasi masalah yang berat dengan cara yang lebih dewasa dan beradab.
8. Beri penjelasan.
Saatnya memberi penjelasan akan masalah yang terjadi ketika orang itu sudah bisa mendengarkan dengan tenang dan tanpa emosi. Beri penjelasan dengan urutan dan rincian yang baik, jelas serta mudah dipahami. Bisa jadi semua itu hanya salah paham saja. Jika Anda memiliki kesalahan, akuilah dan minta maaf serta tawarkan solusi untuk cara menghadapi masalah yang berat.
Kalaupun Anda tidak melakukan kesalahan apapun, meminta maaf karena lawan bicara sudah merasa tidak nyaman juga tetap baik untuk dilakukan. Meminta maaf merupakan salah satu cara menjadi pribadi yang baik dan menunjukkan cara menghargai orang lain.
9. Berbicaralah sambil duduk.
Berdiskusi dengan orang yang baru saja mengalami ledakan emosi sebaiknya dilakukan sambil duduk agar tubuh juga dapat rileks dan tidak tegang.
Bagi orang yang baru saja meluapkan kemarahannya, duduk bisa membantunya untuk semakin tenang dan menurunkan emosi sehingga bisa kembali berpikir jernih. Hal itu bisa membantunya dengan cara menghindari perilaku tercela lainnya selain mengumbar kemarahan dan cara merubah diri menjadi lebih baik dengan menyampaikan perasaan secara konstruktif daripada dengan marah.
10. Tinggalkan jika situasi memburuk.
Sudah mencoba segala cara untuk menenangkan si pemarah dan memberi penjelasan?
Jika ia tetap tidak bisa menenangkan diri dan menyurutkan amarahnya, bahkan makin emosi dan menunjukkan tanda-tanda bahwa akan berbuat kasar.
Sebaiknya Anda mengalah dan meninggalkan tempat agar bisa mempertahankan cara menjaga kesehatan hati. Jangan sampai memberi kesempatan kepada orang tersebut untuk menyakiti Anda dengan alasan melampiaskan emosi. Anda harus tahu kapan waktunya untuk menyelamatkan diri jika situasi semacam ini terjadi, yang berarti harus pandai membaca situasi juga.
Menghadapi orang pemarah pasti akan menguras banyak energi, baik itu fisik maupun pikiran. Terkadang memang kita tidak akan berhasil memadamkan api, karena baranya terlalu besar.
Di saat seperti inilah maka kita harus bijaksana dan tidak memaksakan diri untuk terus terlibat. Mundur bukan berarti kita takut, akan tetapi itu berguna untuk mencegah kerusakan lebih lanjut yang bisa terjadi. Jangan menghabiskan energi dan pikiran Anda untuk sesuatu yang sia-sia dan lebih baik menerapkan beberapa Cara Menghadapi Orang Pemarah.
Sikap mba' sudah benar dengan meminta maaf kepadanya dan mba' harus tetap bersabar dalam menghadapinya.
Kalau bisa mba' berusaha menghubunginya dengan menanyakan kabarnya atau keadaannya.
0⃣7⃣ Yulis
Bagaimana seorang istri dirindukan surga apabila suami membebaskan istri bergaul dengan teman ikhwan?
Apabila istri minta antar suaminya tidak mau malah menyuruh teman ikhwan yang mengantar istrinya padahal suami tidak melakukan aktifitas?
Mohon penjelasanya
Jazakillah ustadzah
🌸Jawab:
Pertemuan antara laki-laki dengan perempuan tidak haram, melainkan jaiz (boleh). Bahkan, hal itu kadang-kadang dituntut apabila bertujuan untuk kebaikan, seperti dalam urusan ilmu yang bermanfaat, amal saleh, kebajikan, perjuangan, atau lain-lain yang memerlukan banyak tenaga, baik dari laki-laki maupun perempuan.
Namun, kebolehan itu tidak berarti bahwa batas-batas di antara keduanya menjadi lebur dan ikatan-ikatan syar’iyah yang baku dilupakan. Kita tidak perlu menganggap diri kita sebagai malaikat yang suci yang dikhawatirkan melakukan pelanggaran, dan kita pun tidak perlu memindahkan budaya Barat kepada kita. Yang harus kita lakukan ialah bekerja sama dalam kebaikan serta tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, dalam batas-batas hukum yang telah ditetapkan oleh Islam. Batas-batas hukum tersebut antara lain:
1. Menahan pandangan dari kedua belah pihak. Artinya, tidak boleh melihat aurat, tidak boleh memandang dengan syahwat, tidak berlama-lama memandang tanpa ada keperluan. Allah berfirman:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya …”(an-Nur: 30-31)
2. Pihak wanita harus mengenakan pakaian yang sopan yang dituntunkan syara’, yang menutup seluruh tubuh selain muka dan telapak tangan. Jangan yang tipis dan jangan dengan potongan yang menampakkan bentuk tubuh. Allah berfirman:
“… Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya …” (an-Nur: 31)
Diriwayatkan dari beberapa sahabat bahwa perhiasan yang biasa tampak ialah muka dan tangan.
Allah berfirman mengenai sebab diperintahkan-Nya berlaku sopan:
“… Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu …” (al-Ahzab: 59)
Dengan pakaian tersebut, dapat dibedakan antara wanita yang baik-baik dengan wanita nakal. Terhadap wanita yang baik-baik, tidak ada laki-laki yang suka mengganggunya, sebab pakaian dan kesopanannya mengharuskan setiap orang yang melihatnya untuk menghormatinya.
3. Mematuhi adab-adab wanita muslimah dalam segala hal, terutama dalam pergaulannya dengan laki-laki:
a. Dalam perkataan, harus menghindari perkataan yang merayu dan membangkitkan rangsangan. Allah berfirman:
“… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)
b. Dalam berjalan, jangan memancing pandangan orang. Firman Allah:
“… Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan…” (An-Nur: 31)
Hendaklah mencontoh wanita yang diidentifikasikan oleh Allah dengan firman-Nya:
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan …” (al-Qashash: 25)
c. Dalam gerak, jangan berjingkrak atau berlenggak-lenggok, seperti yang disebut dalam hadits:
“(Yaitu) wanita-wanita yang menyimpang dari ketaatan dan menjadikan hati laki-laki cenderung kepada kerusakan (kemaksiatan). (HR Ahmad dan Muslim)
Jangan sampai ber-tabarruj (menampakkan aurat) sebagaimana yang dilakukan wanita-wanita jahiliah tempo dulu atau pun jahiliah modern.
4. Menjauhkan diri dari bau-bauan yang harum dan warna-warna perhiasan yang seharusnya dipakai di rumah, bukan di jalan dan di dalam pertemuan-pertemuan dengan kaum laki-laki.
5. Jangan berduaan (laki-laki dengan perempuan) tanpa disertai mahram. Banyak hadits shahih yang melarang hal ini seraya mengatakan, ‘Karena yang ketiga adalah setan.’
Jangan berduaan sekalipun dengan kerabat suami atau istri. Sehubungan dengan ini, terdapat hadits yang berbunyi:
“Jangan kamu masuk ke tempat wanita.” Mereka (sahabat) bertanya, “Bagaimana dengan ipar wanita.” Beliau menjawab, “Ipar wanita itu membahayakan.” (HR Bukhari)
Maksudnya, berduaan dengan kerabat suami atau istri dapat menyebabkan kebinasaan, karena bisa jadi mereka duduk berlama-lama hingga menimbulkan fitnah.
6. Pertemuan itu sebatas keperluan yang dikehendaki untuk bekerja sama, tidak berlebih-lebihan yang dapat mengeluarkan wanita dari naluri kewanitaannya, menimbulkan fitnah, atau melalaikannya dari kewajiban sucinya mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak.
0⃣8⃣ Adis
Apakah seorang wanita boleh berprofesi sebagai hakim ?
Bagaimana hukumnya dalam Islam ?
Terimakasih ustadzah
🌸Jawab:
Sahabat Muslimah yang sejati.
Pada dasarnya, semua manusia di mata Allah adalah sama. Yang membedakan mereka adalah ketakwaannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuraat: 13).
Hanya saja, ulama berbeda pendapat soal boleh tidaknya perempuan menjadi seorang hakim. Bila kita menengok sejarah, sesungguhnya pada masa Nabi tercatat ada beberapa sahabat perempuan (bahkan, istri-istri Nabi) yang kerapkali menjadi rujukan hukum. Dalam konteks sekarang, peran mereka seperti seorang hakim saja. Sebut saja ada Siti Aisyah, Ummu Salamah, Shafiyah dan Ummu Habibah.
Namun, kondisi ini tak menyurutkan pandangan para ulama dahulu soal hakim perempuan. Mayoritas ulama dari Madzhab Maliki, Syafi’i dan Hambali melarang perempuan menjadi seorang hakim. Sedangkan Madzhab Hanafi melarang, tapi sedikit memberikan keleluasaan. Selama dianggap memenuhi syarat tertentu, maka mereka diperbolehkan berposisi sebagai seorang hakim dalam perkara apapun kecuali dalam masalah had dan qishash.
Terlepas dari semuanya itu, ternyata ada beberapa ulama yang membolehkan perempuan menjadi hakim secara mutlak dalam kasus apapun. Mereka adalah Ibnu Jarir Ath-Thabari yang dinukil dan diadopsi oleh Ibnu Rusyd dalam kitab Bidayat Al Mujtahid. Menurut Ath-Thabari, bila perempuan diperbolehkan mengeluarkan fatwa, maka demikian pula dengan posisi hakim. Selain itu, tak satu pun ayat dalam Al Quran maupun hadits yang secara tegas melarang perempuan menjadi hakim.
Secara historis, kata Ibnu Jarir, pernah terjadi pengangkatan seorang perempuan sebagai hakim pada masa Umar bin Khathab, yaitu Al Syifa dari suku al Syuq. Selain Ath-Thabari, Ibnu Hazm juga memperbolehkan kaum hawa menjadi hakim.
Senada dengan hal di atas, Imam Al Ghazali (Hujjatul Islam) juga memperbolehkan perempuan menjadi hakim. Pendapat ini diikuti oleh ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf Al Qaradhawi. Hanya saja ada syaratnya, yaitu mencapai usia pantas untuk menduduki jabatan ini, tidak dalam keadaan hamil, tidak dalam masa siklus bulanannya, sehat jasmani, anak-anaknya sudah dewasa dan diangkat serta diminta oleh masyarakat. Selain itu, tentu saja ia harus seorang yang ahli dan memiliki akhlak yang baik.
“Pada masyarakat yang berperadaban kita bisa berfatwa diperbolehkannya wanita menjadi hakim, sebab masyarakat memang membutuhkannya. Bahkan kebutuhan inilah yang mewajibkannya. Apalagi jika tidak ada laki-laki yang mampu mengambil peran ini. Dalam keadaan demikian, dan kepada masyarakat yang berperadaban, saya mengatakan tidak ada hukum yang melarang wanita menjadi hakim,” ujar Syekh Yusuf Al Qaradhawi.
Di timur tengah, negara-negara yang memperbolehkan perempuan menjadi hakim adalah Maroko (sebagai pelopor sejak 1959), Lebanon (sejak 1968), Tunisia (sejak 1968), Sudan (sejak 1970), Yaman (sejak 1974) dan Suriah (sejak 1975).
Di Indonesia sendiri, sudah ada puluhan perempuan yang menjadi hakim biasa hingga hakim agung. Tercatat, hakim agung perempuan pertama Indonesia bernama Sri Widoyati Wiratmo Soekito pada tahun 1968.
Demikian beberapa pendapat soal boleh tidaknya perempuan menjadi hakim.
Kesimpulannya: perempuan boleh menjadi hakim asalkan memenuhi syarat. Sebab, kondisi masa kini menuntut perempuan untuk bisa menjadi penegak hukum sama seperti laki-laki.
Wallahu a’lam bil-shawab!
🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸
💎CLoSiNG STaTeMeNT💎
Dalam buku Wanita Yang Dirindukan Surga:
Beribadah Tanpa Lelah karya M. Fauzi Rahman ini disebutkan berbagai macam ibadah yang bisa dilakukan oleh kaum wanita guna mendekatkan diri kepada Allah dan tentu saja surga-Nya. Di antara ibadah-ibadah tersebut adalah, pertama iman kepada Allah. Iman berarti pembenaran. Dalam Islam, iman berarti pembenaran terhadap apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw yang pokok-pokoknya telah tercantum dalam enam rukun iman
Iman merupakan faktor utama dalam upaya meraih kecintaan Allah Swt. Bahkan, dalam Al-Qur’an ada pujian kepada wanita budak tapi beriman daripada wanita musyrik nan cantik, tetapi tidak beriman kepada Allah. Hal ini terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 221, “Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya, wanita budak yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu.”
Amalan yang mendatangkan kecintaan Allah Swt. Adalah bertaqwa.
Rasulullah pernah melihat seorang wanita menangis di kuburan, beliau kemudian berpesan, “Bertakwalah kepada Allah!” Hal ini berarti takwa penting dalam keseharian manusia. Bahkan, saking penting bertakwa, dalam Al-Qur’an perintah untuk bertakwa disebutkan sebanyak 69 kali (halaman 71).
Setelah beriman dan bertakwa, maka yang mendekatkan wanita kepada kecintaan Allah adalah beribadah. Ada begitu banyak ibadah yang Allah sediakan, dari yang wajib hingga yang sunnah. Alangkah baiknya ketika menunaikan kewajiban shalat lima waktu, puasa Ramadhan, haji, dan lainnya, diiringi juga dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah. Seperti shalat sunnah rawatib, dhuha, tahajud dan lainnya. Puasa sunnah senin-kamis, daud, syawal, hari asyura Muharram dan lainnya. Membaca dan mengkaji Al-Qur’an. Zikir kepada Allah. Berakhlah mulia, berbakti pada orangtua, membina kehidupan beragama dalam keluarga dan lain-lain (halaman 169).
Dengan demikian, buku Wanita Yang Dirindukan Surga: Beribadah Tanpa Lelah tidak hanya menarik dan inspiratif tetapi juga penuh dengan ilmu agama yang penting diketahui, khususnya oleh para wanita. Sehingga kelak menjadi wanita yang dirindui oleh Surga. Semoga.
🌸🌸🌸🌟🌟🌟🌸🌸🌸

Subscribe Our Newsletter

avatar
"Dengan berbicara di belakang, berarti kau cukup menghargai keberadaanku untuk tidak bertingkah di depan mukaku."

Related Posts

Tidak postingan yang terkait.

Iklan Atas Artikel

Iklan Parallax

PASANG IKLAN ADSENSE
DISINI
YANG SUDAH DIPARSE

Iklan Tengah Artikel

Iklan Bawah Artikel